Sabtu, 02 Juni 2012

Mengintip Pijat Plus2 di Batam ( 3-Tamat )

Kemiskinan Membuat Mereka Jual Diri


Amel, 25, tak pernah menyangka bakal menjadi pemijat plus-plus. Saat pertama kali menjadi pemijat, ia hanya melayani pijat biasa. Hampir dua bulan ia bertahan, selalu menolak jika ada tamu yang menginginkan layanan lebih.
Namun menginjak bulan ketiga imannya goyah. Kebutuhan hidupnya tak lagi terpenuhi jika hanya mengandalkan komisi Rp15 ribu per jam yang ia terima dari pijatan biasa. Apalagi ia harus mengirim uang ke kampung, untuk orang tua dan dua adiknya yang sekolah di Jawa.
Teman-temannya sesama pemijat juga merayunya untuk memberikan layanan seks. “Awalnya ragu, tapi setelah saya coba, ternyata hasilnya lebih besar dari perkiraan saya. Kalau lagi ramai, dalam semalam saya bisa dapat Rp500 ribu,” tukasnya.
Kepada orang tuanya di kampung, Amel mengaku kerja di pabrik. Itu ia lakukan agar pekerjannya tak ketahuan. “Kalau ketahuan bisa gawat,” tuturnya.
Amel awalnya bekerja sebagai TKW di Malaysia. Tahun 2007 silam, berbekal ijazah SMP ia berangkat ke negeri jiran itu sebagai pembantu rumah tangga. Setahun di Malaysia, ia berkenalan dengan seorang pria asal Flores. “Kami kemudian menikah dan punya satu anak,” katanya.
Amel dan suaminya kemudian mengadu nasib di Batam. Di sini mereka tinggal di Batubesar Nongsa. Suami Amel kerja di galangan kapal, Amel tinggal di rumah menjaga anak semata wayangnya. Dua tahun menikah, prahara menimpa keluarga Amel. Suaminya menuduhnya berselingkuh dengan pria lain. “Dia pergi ke Flores membawa putriku. Sampai ini hari nggak ada kabarnya,” tuturnya.
Sejak ditinggal suaminya, ia hidup tak tentu arah. “Saya pernah kerja di pub tapi gak betah,” katanya. Hingga kemudian kawannya memperkenalkan Amel ke seorang pengelola panti pijat. Amel diberi kursus pijat selama dua bulan.

Sekarang Amel tak lagi malu-malu. Setiap memijat tamu ia selalu menawarkan layanan seks. Jika tamunya bersikap dingin, ia tak sungkan-sungkan melepas pakaiannya. “Kalau sudah begitu, masak tak mau,” katanya tersenyum.
Lain lagi dengan Susi, 23. Wanita asal Malang, Jawa Timur itu tergiur menjadi pemijat karena ajakan teman-temannya di kampung yang terlebih dulu menjadi pemijat di Batam. Tiap bulan, temannya itu mengirimkan banyak uang ke keluarganya.
“Kalau pulang kawanku itu selalu bawa uang banyak, pakai perhiasan, bajunya bagus-bagus,” ujarnya.
Mantap dengan pilihannya itu, Susi berangkat ke Batam. Seluruh biaya perjalanan dari kampung ke Batam ditanggung pemilik panti pijat. Susi baru diminta mengganti biaya perjalanan setelah aktif bekerja. Pemilik panti langsung memotong komisi Susi.
Di Batam, Susi dilatih cara memijat selama satu bulan. Selepas itu, ia langsung bekerja. Awalnya, seperti Amel, Susi hanya mememberi pijatan biasa pada tamunya. Hingga kemudian, ada tamu yang protes karena Susi enggan memberi pijatan plus.
Oleh kawannya, Susi akhirnya diberitahu kalau panti pijat tempat mereka bekerja adalah panti pijat plus yang memberi layanan seks. Susipun diajari bagaimana cara menawarkan seks kepada para tamunya. Misalnya dengan memijat pada bagian-bagian sensitif agar tamunya itu terangsang.
Penghasilan dari layanan seks itu dirasakan Susi lebih tinggi daripada komisinya jika hanya memijat biasa. Kalau pijat biasa Susi hanya mendapatkan Rp15 ribu hingga Rp20 ribu per jam, jika memberi layanan seks, Susi bisa mendapatkan Rp300 ribu per tamu.
“Kalau tidak seperti ini, darimana saya bisa ngirim duit orangtua,” ujar Susi.
Monik, 24, wanita asal Subang, Jawa Barat, juga sudah tak perawan lagi saat memutuskan menjadi tukang pijat di Batam. Ia terjebak pergaulan bebas. Selama berpacaran dengan ia berkali-kali berhubungan badan.
Namun ia kecewa setelah pacarnya juga berhubungan dengan wanita lain. “Sejak itu saya kesal dan langsung pergi,” katanya.
Batam menjadi tujuan Monic. Ia tak menolak ketika ditawari menjadi pemijat plus. Masa depannya yang ia anggap suram, kecewa dengan pacar, dan kondisi ekonomi keluarganya di kampung membuat ia nekat. “Tiap bulan saya kirim uang ke kampung,” tandasnya. Kepada orang tuanya, Monic mengaku menjadi pelayan di sebuah rumah makan.
Yessi, 22, juga nekat menjadi pemijat plus dengan latar belakang yang sama: dinodai pacarnya di kampung. Gadis berkulit putih dari Subang itu mengaku ingin membuang rasa trauma.
Apalagi, katanya, kondisi ekonomi orang tuanya memprihatinkan. Bapaknya kerja serabutan, ibunya buruh cuci. “Dua adikku, satu di SD, satu lagi di SMP, harus saya biayai,” tuturnya.
Toh, Yessi menikmati pekerjaannya. Di panti, ia merasa bebas. Para pemijatnya dibiarkan, tanpa kekangan. Bebas menelepon, bebas jalan-jalan. “Saya tidak tinggal di sini. Saya bebas kemana saja,” ujarnya.
Iwel, 22, malah sudah bercita-cita ingin jadi pengusaha jika sudah tak lagi jadi pemijat. Ia ingin buka butik di Jawa Barat. “Saya sekarang sedang ngumpulin duit buat buka usaha,” katanya.
Meski menjadi pemijat plus, Iwel ternyata punya kekasih. Ada cincin tunangan di jari manisnya. “Tunanganku itu sudah tahu kalau kerjaku beginian. Kami malah ketemunya di sini,” katanya. Tunangan Iwel ternyata tamu yang pernah dilayaninya.
Soal dosa, kata Iwel, itu urusan pribadi. “Apa ada orang memberikan uang tanpa mengharapkan sesuatu? Apa ada orang yang peduli sama kesusahan yang kita alami?".


Sumber

0 komentar:

Poskan Komentar

Translate my Blog

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : BTF

About